3 Hal Penting Ketika Ingin Mengunjungi Suku Baduy - Pojok Dunia

Breaking

Kamis, Juli 23, 2020

3 Hal Penting Ketika Ingin Mengunjungi Suku Baduy

Kawasan Desa Adat Baduy belakangan ini menjadi perbincangan hangat setelah muncul wacana penghapusan daearah ini sebagai destinasi wisata. Masyarakat Badui sendiri yang menginginkannya, lalu berharap menjadi cagar budaya.
3 Hal Penting Yang Harus Diketahui Jika Ingin Mengunjungi Suku Baduy
Permintaan masyarakat Baduy ini kabarnya disampaikan lewat sebuah surat terbuka yang dikirim ke Presiden Joko Widodo pada Senin, 6 Juli 2020. Belakangan, surat itu dibantah dan disebut tidak mewakili seluruh tokoh serta masyarakat Baduy. Menurut Kepala Desa Kanekes, Jaro Saija, Desa Kanekes sebagai tempat tinggal masyarakat Baduy masih boleh dikunjungi wisatawan.

Namun, warga Baduy meminta agar nama Wisata Baduy diganti menjadi Saba Budaya Baduy. Ini artinya wisatawan yang berkunjung tujuannya adalah untuk silaturahmi, bertemu, dan berinteraksi. Sementara jika wisata, orang Baduy seolah-olah menjadi tontonan.

Jaro Saija mengatakan penyebutan Saba Budaya Baduy sebetulnya sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Bahkan sudah dibentuk peraturan desa mengenai Saba Budaya. Nah, kalau kamu berencana mengunjungi Saba Budaya Baduy, berikut rute, aturan, dan tips-tipsnya yang harus kamu pahami.

1. Cara menuju Desa Baduy

Desa Adat masyarakat Baduy terletak di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Desa ini terletak sekitar 160 kilometer dari pusat Kota Jakarta. Waktu yang ditempuh untuk menuju Desa Kanekes adalah sekitar lima jam perjalanan. Dari Jakarta, kamu bisa naik KRL dari Stasiun Tanah Abang menuju Rangkasbitung, ibu kota Kabupaten Lebak.

Sampai di Rangkasbitung, kamu bisa melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan umum berupa elf lokal untuk menuju Ciboleger, yang merupakan pintu gerbang menuju Kampung Baduy. Dari sinilah perjalanan trekking dimulai. Sebenarnya, ada dua jalur yang bisa kamu pilih, yakni Ciboleger dan Cijahe.

Jalur Ciboleger ini lebih ramah turis dengan fasilitas lengkap dan suasana yang ramai. Namun jika lewat jalur ini, diperlukan trekking sekitar 4-5 jam. Jalur Cijahe memiliki jalan yang cukup rusak dan berlubang, tetapi hanya durasi trekking kurang dari satu jam saja.

Sebelum sampai ke Desa Adat Baduy di Kanekes, kamu akan menjumpai beberapa kampung baduy luar dan Taman Nasional Ujung Kulon Pandeglang. Sesampainya di pintu gerbang Desa Kanekes, kamu kembali bisa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

2. Aturan yang harus kamu patuhi

Masyarakat Baduy dikenal selalu memegang teguh adat istiadat dan aturan. Oleh karena itu, ada beberapa peraturan yang wajib kamu patuhi saat berkunjung ke Desa Adat Baduy. Jika kamu berada di Baduy Dalam, kamu dilarang mengambil foto atau video lewat perangkat apa pun. Jika mandi di sungai tidak boleh menggunakan sabun, sampo, dan pasta gigi.

Selain itu, masyarakat Baduy juga dikenal sangat memelihara alam dengan baik. Oleh karena itu, kamu dilarang keras untuk membuang sampah sembarangan. Para wisatawan yang berkunjung diwajibkan membawa kembali sampah-sampah mereka.

3. Tips-tips berkunjung ke Desa Adat Baduy

Sangat disarankan menyiapkan kondisi fisik dan stamina jika ingin bersilaturahmi ke Desa Adat Baduy. Pasalnya, untuk bisa sampai ke kampung-kampung di Baduy Dalam, kamu harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki melewati jalur setapak.

Kamu bisa menyiapkan peralatan yang akan digunakan menuju Desa Adat Baduy, seperti sepatu trekking, jaket, ransel, jas hujan, dan juga senter. Satu hal lagi yang perlu kamu ketahui, kamu tidak akan menemukan warung makan di Baduy Dalam. Disarankan membawa perbekalan sendiri.

Jika kamu memutuskan menginap di rumah penduduk, kamu bisa membawa beras, sayuran, lauk pauk, dan air minum yang banyak mengingat air bersih di Baduy hanyalah dari air sungai. Kamu juga bisa membawa makanan ringan, kopi, teh, dan gula.

Sesampainya di rumah penduduk, kamu bisa meminta tuan rumah untuk memasakkan makan malam dan sarapan buat rombonganmu. Jangan lupa juga untuk mengisi buku tamu dan menyelipkan selembar Rp50 ribu di buku tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar